Jumat, 21 Maret 2014

Kenali Pasangan Tanpa PACARAN

 Kehidupan modern ini membuat semuanya serba instan. Tak terkecuali mencari jodoh alias pasangan. Beragam acara cari jodoh pun digelar contohnya Take Me (Him) Out Indonesia atau acara sejenis seperti Katakan Cinta, Cinta Monyet dan sebagainya.

                  Nah, dengan perkembangan teknologi, manusia semakin dipermudah seperti dengan adanya situs jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, Twitter, Plurk, Koprol dan media lainnya yang memungkinkan hubungan dengan orang lain begitu dekat. Bahkan tidak ada lagi ruang privasi yang tersekat.
Dengan media jejaring sosial tersebut, kita pun bebas menentukan siapa yang akan menjadi teman atau bahkan lebih dari sekadar teman bagi kita. Bahkan beberapa waktu lalu, Facebook menjadi kambing hitam atas pelarian seorang wanita yang dikira diculik oleh cowok, teman mayanya itu di situs jejaring sosial.
Padahal, kita pun memiliki tuntunan untuk mencari jodoh. Untuk mengenal calon tanpa pacaran dapat kita ketahui melalui cara-cara yang efektif, yaitu :
1. Bertanyalah kepada orang yang dianggap paling dekat dengan calon tersebut yang dapat dipercaya sehingga Insya Allah informasi yang kita dapatkan cukup objektif. Dari sinilah kita dapat mengenali sifat-sifat yang tidak nampak dalam tampil sekejap dan sifat-sifat ini penting bagi yang ingin membangun rumah tangga bersama.
Dalam sebuah syair diungkapkan:

"Jika kamu ingin bertanya tentang seseorang tanyalah kepada orang terpercaya yang paling dekat dengan orang tersebut (sahabat), karena orang yang saling bersahabat itu saling mempengaruhi."

Namun untuk mengetahui penampilan/fisiknya tentu dengan melihat dan cara melihatnya tanpa sepengatahuannya.
2. Untuk mendapatkan kemantapan, lakukanlah sholat istikharah dan mohonlah kepada Allah karena Dia yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Rasulullah saw bersabda :
Kalau Anda menginginkan sesuatu maka lakukan salat dua rakaat, rakaat awal setelah membaca al-Fatihah membaca al-Kafirun dan pada rakaat kedua surat al-ikhlas lalu berdoa….. ( doa istiharah).
3. Setelah memiliki kecenderungan yang kuat untuk mempersunting maka langkah selanjutnya adalah perkenalan (ta'aruf) antar keduanya secara lebih dekat yaitu secara langsung, namun tetap menjaga norma-norma Islam.
4. Setelah itu, maka diteruskan dengan proses berikutnya sampai akad nikah. Tentu dalam hal ini kedua keluarga memiliki kontibusi yang sangat dominan. Karena keterangan no 1-3 baru menjelaskan bagaimana mengenali sang calon tanpa pacaran.
5. Kenapa untuk mengenali sifat-sifat calon tidak melalui pacaran terlebih dahulu ? Karena Pernikahan yang diawali dengan pacaran dapat diibaratkan membeli buku yang dijadikan contoh(sample) dari jenis buku yang mahal.
Umumnya buku yang seperti ini di toko-toko buku dibungkus dengan plastik rapat disertai peringatan yang bertuliskan "Membuka berarti membeli" sehingga bagi para pembeli untuk mengenali buku tersebut secara terperinci ada dua pilihan, yaitu pertama, dengan membuka buku tersebut dan membacanya, akibatnya buku tersebut sangat lecek dan makin lusuh bila semakin banyak orang yang membacanya. Akhirnya hampir semua pembeli menolak untuk menerimanya sebagai barang beliannya kecuali sangat memaksa. Membeli buku seperti inilah ibarat pernikahan yang diawali dengan pacaran.
Pilihan kedua, karena buku tersebut mahal terbungkus rapi dan membukanya adalah berarti membeli maka untuk mengetahui isinya sang pembeli bertanya kepada petugas melalui katalog komputer atau terlebih dahulu bertanya kepada orang yang telah memiliki dan membacanya sehingga dia memperoleh buku yang benar-benar baru belum pernah disentuh oleh siapapun termasuk pembelinya. Inilah ibarat orang yang menikah dengan tidak proses pacaran tadi. Pada interval menanti hingga akad nikah nanti memang sering terjadi rindu kangen dan seterusnya. Rindu yang seperti ini merupakan kerinduan yang menjadi kesempurnaan sifat manusia. Kerinduan yang tidak mampu di tolak oleh manusia itu sendiri.

Imam Ibnu Qoyyim mengkatagorikan sebagai rindu yang sah-sah saja terjadi pada setiap manusia dan manusia tidak mampu memilikinya dan menolaknya, sepanjang tidak dibawa oleh kerinduan tersebut kepada ma'siat kepada Allah bahkan kita bersabar untuk menahannya maka hal itu tidak apa-apa dan itulah rindu yang karena Allah. Tetapi jika rindu tersebut justru yang membawa kita ke jalan hawa nafsu itulah rindu karena hawa nafsu bukan karena Allah.

Wallahu'alam.

Makna Ulang Tahun Dalam Islam


Apa makna ulang tahun? tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang memaknainya dengan merayakan ulang tahun dengan pesta bersama teman-teman, ada juga yang berbagi cuka cita dengan mengajak makan anak-anak yatim, ada juga yang hanya bertafakur kepada Ilahi sambil mengingat-ingat apa saja amal perbuatan yang telah dikerjakan sebagai hamba Allah. Setiap orang berhak merayakan datangnya hari pergantian umur dengan caranya masing-masing.

Bagi saya, yang dilahirkan pada hari Selasa Wage tanggal 22 November (sama persis seperti hari ini =p ), tepatnya 23 tahun yang lalu, hari ini merupakan pertanda bahwa tahun-tahun menjelang kembali keharibaan Ilahi menjadi semakin dekat. Ucapan selamat dari keluarga tercinta, kakak-adik, keponakan, teman, sahabat dan semua orang-orang terdekat, merupakan anugerah tersendiri. Syukur alhamdulillah dan terima kasih atas doa-doa yang diberikan, mudah-mudahan Allah Yang Maha Baik mengijabah doa-doa yang dipanjatkan untuk saya dengan tulus.

Banyak hal yang masih harus diperbaiki, tingkah laku dan perbuatan, terutama ketaqwaan kepada Sang Khaliq yang telah memberikan waktu kepada saya untuk dapat menghirup udara dengan bebas setiap waktu serta dapat menikmati kehidupan duniawi yang telah diberikan oleh Sang Pencipta yang tiada tara banyaknya. Fabiayyialaairobbikumatukadziban, maka nikmat Allah yang manakah yang engkau dustakan?

Sekali lagi terima kasih kepada semuanya, mudah-mudahan disisa umur yang masih ada, saya masih bisa memberikan manfaat kepada  orang-orang tercinta yang berada disekeliling saya. Amien…. ya Rabbal alamin…

Nah, lalu bagaimanakah Islam memandang perkara ulang tahun ini? Mari simak penjelasan berikut.. yuuukk. 
1. Sejarah Perayaan Ulang Tahun
Ulang tahun atau Milad (dalam bahasa arab) pertama kali dimulai di Eropa. Dimulai dengan ketakutan akan adanya roh jahat yang akan datang pada saat seseorang berulang tahun, untuk menjaganya dari hal-hal yang jahat, teman-teman dan keluarga diundang datang saat sesorang berulang tahun untuk memberikan do’a serta pengharapan yang baik bagi yang berulang tahun. Memberikan kado juga dipercaya dapat memberikan rasa gembira bagi orang yang berulang tahun sehingga dapat mengusir roh-roh jahat tersebut.
Merayakan ulang tahun merupakan sejarah lama. Orang-orang jaman dahulu tidak mengetahui dengan pasti hari kelahiran mereka, karena waktu itu mereka menggunakan tanda waktu dari pergantian bulan dan musim. Sejalan dengan peradaban manusia, diciptakanlah kalender. Kalender memudahkan manusia untuk mengingat dan merayakan hal-hal penting setiap tahunnya, dan ulang tahun merupakan salah satunya.
Banyak simbol-simbol yang diasosiasikan atau berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu. Ada sedikit penjelasan mengapa perayaan ulang tahun harus menggunakan kue. Salah satu cerita mengatakan, karena waktu dulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil dewi bulan, Artemis. Mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Cerita lainnya tentang kue ulang tahun yang bermula di Jerman yang disebut sebagai “Geburtstagorten” adalah salah satu tipe kue ulang tahun yang biasa digunakan saat ulang tahun. Kue ini adalah kue dengan beberapa layer yang rasanya lebih manis dari kue berbahan roti.
Simbol lain yang selalu menyertai kue ulang tahun adalah penggunaan lilin ulang tahun di atas kue. Orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke dewi Artemis juga meletakan lilin-lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala sepeti bulan (gibbons, 1986). Orang Jerman terkenal sebagai orang yang ahli membuat lilin dan juga mulai membuat lilin-lilin kecil untuk kue mereka. Beberapa orang mengatakan bahwa lilin diletakan dengan alasan keagamaan/religi. Beberapa orang jerman meletakan lilin besar di tengah-tengah kue mereka untuk menandakan “Terangnya Kehidupan” (Corwin,1986). Yang lainnya percaya bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga.
Saat ini banyak orang hanya mengucapkan pengharapan di dalam hati sambil meniup lilin. Mereka percaya bahwa meniup semua lilin yang ada dalam satu hembusan akan membawa nasib baik. Pesta ulang tahun biasanya diadakan supaya orang yang berulang tahun dapat meniup lilinnya.
Ada juga mitos yang mengatakan bahwa ketika kita memakan kata-kata yang ada di atas kue, kata-kata tersebut akan menjadi kenyataan. Jadi dengan memakan “Happy Birthday” akan membawa kebahagiaan.
Pada pesta ulang tahun pertama kalinya, pesta diadakan karena orang menduga akan adanya roh jahat yang mengganggu mereka. Jadi mereka mengundang teman dan kerabat untuk menghadiri pesta ulang tahun mereka sehingga roh-roh jahat tidak jadi mengganggu yang berulang tahun. Dalam pesta-pesta selanjutnya banyak dari keluarga dan teman yang membawa kado atau bunga untuk yang berulang tahun.
Saat ini kebanyakan pesta ulang tahun diadakan untuk bersenang-senang. Jika orang yang di undang tidak bisa menghadiri pesta ulang tahun, biasanya mereka akan mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun. Tradisi mengirimkan kartu ucapan dimulai di Inggris sekitar 100 tahun yang lalu (Motomora, 1989). Pada awal mulanya hanya raja saja yang dirayakan ulang tahunnya (mungkin disinilah awal mulanya tradisi topi ulang tahun bermula). Seiring waktu berlalu, anak-anak juga di ikutsertakan dalam pesta ulang tahun. Pesta ulang tahun untuk anak-anak pertama kali terjadi di Jerman dan dinamakan “kinderfeste”. Tetapi saat ini, pesta ulang tahun bisa diadakan oleh siapa saja, terutama yang punya uang…
Nah kira-kira begitulah sejarahnya perayaan ulang tahun untuk pertama kalinya, percaya gak percaya, tapi tetap aja enggak ada salahnyakan mengucapkan do’a di hari ulang tahun kita.
Perlukah Umat Islam Merayakan Ulang Tahun
Pembahasan boleh tidaknya masalah ulang tahun seseorang atau organisasi memang tidak disinggung secara langsung dalam dalil-dalil syar‘i. Tidak ada ayat Al-Quran atau hadits Nabawi yang memerintahkan kita untuk merayakan ulang tahun, sebagaimana sebaliknya, juga tidak pernah ada larangan yang bersifat langsung untuk melarangnya. Sehingga umumnya masalah ini merupakan hasil ijtihad yang sangat erat kaitannya dengan kondisi yang ada pada suatu tempat dan waktu. Artinya, bisa saja para ulama untuk suatu masa dan wilayah tertentu memandang bahwa bentuk perayaan ini lebih banyak mudharat dari manfaatnya. Namun sebalik, bisa saja pendapat ulama lainnya tidak demkian, bahkan mungkin ada hal-hal positif yang bisa diambil dengan meminimalisir dapak negatifnya.
Mengapa demikian? Karena memang tidak didapat nash yang secara sharih melarang atau membolehkannya. Tidak terdapat dalam sunnah apalagi dalam Al-Quran. Sehingga dalam satu majelis yang di dalamnya duduk para ulama, perbedaan sudut pandang pun bisa saja terjadi, tergantung dari sudut pandang mana seorang melihatnya.
1.       Pendapat yang Mengharamkan
Sebagian ulama yang berfatwa mengharamkan perayaan ulang tahun, berijtihad dari dalil-dalil yang bersifat umum. Misalnya, dalil-dalil yang melarang umat Islam meniru-niru perbuatan orang-orang kafir.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: من تشبه بقوم فهو منهم
Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka termasuk mereka (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Kiranya para ulama itu memandang bahwa perayaan ulang tahun itu identik dengan perilaku orang-orang kafir. Sehingga mereka mengharamkan umat Islam untuk merayakannya secara ikut-ikutan.Selain itu, oleh sebagian ulama, seringkali acara ulang tahun disertai dengan banyak kemaksiatan. Seperti minuman keras, pesta musik, joget, dansa, campur baur laki-laki dan wanita. Bahkan banyak yang sampai meninggalkan shalat dan kewajiban lainnya. Seringkali juga pesta-pesta itu sampai melupakan niat utama, tergantikan dengan semangat ingin pamer dan menonjolkan kekayaan. Sehingga menimbulkan sifat riya’ dan sum’ah pada penyelenggaranya.
2.       Yang Cenderung Membolehkan
Adapun sebagian lainnya dari para ulama, mereka cenderung membolehkan ulang tahun. Dengan landasan dasar bahwa ulang tahun bukanlah ibadah ritual. Sehingga selama tidak ada larangannya yang secara langsung disebutkan di dalam nash Quran atau sunnah, hukum asalnya adalah boleh. Sesuai dengan kaidah “al-ashlu fil asy-yaa’i al-ibahah.” Bahwa kaidah dasar dari masalah muamalah adalah kebolehan, selama tidak ada nash yang secara tegas melarangnya.
Adapun alasan peniruan orang kafir, dijawab dengan argumen bahwa tidak semua yang dilakukan oleh orang kafir haram dikerjakan. Hanya yang terkait dengan peribadatan saja yang haram, adapun yang terkait dengan muamalah, selama tidak ada nash yang langsung melarangnya, hukumnya tidak apa-apa bila kebetulan terjadi kesamaan. Misalnya, kebiasaan pesta pasca panen di suatu negeri yang masih kafir. Apakah bila ada kebiasaan yang sama di suatu negeri muslim, dianggap sebagai bentuk peniruan? Tentu tidak, sebab hal itu dipandang sebagai ‘urf yang lazim, tidak ada kaitannya dengan wilayah kekufuran atau kebatilan. Para ulama dari kelompok ini cenderung menetapkan ‘illat haramnya peniruan pada orang kafir berdasarkan titik keharamannya. Bukan semata-mata dilakukan oleh mereka. Misalnya, kebiasaan orang kafir memberikan sesaji kepada gunung yang mau meletus, maka hukumnya haram bagi muslimin untuk melakukannya. Adapun bila ada nash secara langsung dari Rasulullah SAW untuk tidak meniru suatu perbuatan tertentu, maka wajib bagi tiap muslim untuk mengikuti perintah beliau. Misalnya, larangan Rasulullah SAW bagi umat Islam untuk mencukur jenggot dan memelihara kumis, sebab dianggap menyerupai orang kafir. Maka larangan itu tetap berlaku, meski pun orang kafir sendiri telah merubah kebiasaannya.
Beberapa Pertimbangan
Bila kita ingin meletakkan hukum merayakan ulang tahun, kita harus membahas dari tujuan dan manfaat yang akan didapat. Apakah ada di antara tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang penting dalam hidup ini? Atau sekedar penghamburan uang? Atau sekedar ikut-ikutan tradisi? Adakah sesuatu yang menambah iman, ilmu dan amal? Atau menambah manfaat baik pribadi, sosial atau lainnya? Pertimbangan lain  adakah dalam pelaksanaan acara seperti itu maksiat dan dosa yang dilanggar?
Bila ternyata semua jawaban di atas positif, dan acara seperti itu menjadi tradisi, apakah tidak akan menimbulkan salah paham pada generasi berikut seolah-olah acara seperti ini harus dilakukan? Hal ini seperti yang terjadi pada upacara peringatan hari besar Islam baik itu kelahiran, isra` mi`raj dan sebagainya. Jangan sampai dikemudian hari, lahir generasi yang menganggap perayaan ulang tahun adalah sesuatu yang harus terlaksana. Bila memang demikian, bukankah kita telah kehilangan makna?
Sumber: Ahmad Sarwat, Lc.

Dari www.eramuslim.com

Minggu, 24 November 2013

ETIKA BERGAUL DENGAN LAWAN JENIS



Dilahirkan sebagai seorang wanita adalah anugerah yang sangat indah dari Allah Ta’ala. Sebuah anugerah yang tidak dimiliki oleh seorang pria.Terlebih anugerah itu bertambah menjadi muslimah yang mukminah yaitu wanita muslimah yang beriman kepada Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)
Menjadi wanita muslimah yang beriman kepada Allah tentu tidak mudah,karena banyak sekali godaan-godan dalam mencapainya. Dikarenakan  balasan yang Allah janjikan pun tidak terbandingkan dan semua wanita pun menginginkannya. Godaan-godaan untuk menjadi wanita shalihah sering kali datang dan menggebu-gebu saat kita menginjak usia remaja,di mana masa puberitas seorang wanita ada di masa ini. Bukan hal yang mudah pula bagi remaja muslim dalam melewati masa ini, namun sungguh sangat indah bagi para remaja yang bisa dikatakan lulus dalam melewati masa pubertas yang penuh godaan ini.
Salah satu godaan yang amat besar pada usia remaja adalah “rasa ketertarikan terhadap lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia, baik wanita atau lelaki. Namun kalau kita tidak bisa memenej perasaan tersebut,maka akan menjadi mala petaka yang amat besar,baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang yang kita sukai. Sudah Allah tunjukkan dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)
Sebagai wanita muslimah kita harus yakin bahwa kehormatan kita harus dijaga dan dirawat, terlebih ketika berkomunikasi atau bergaul dengan lawan jenis agar tidak ada mudhorot (bahaya) atau bahkan fitnah. Di bawah ini akan kami ungkapkan adab-adab bergaul  dengan lawan jenis. Di antaranya:
Pertama: Dilarang untuk berkholwat (berdua-duan)
TTM, teman tapi mesra, kemana-mana bareng, ke kantin bareng, berangkat sekolah bareng, pulang sekolah bareng. Hal ini merupakan gambaran remaja umumnya saat ini,di mana batas-batas pergaulan di sekolah umum sudah sangat tidak wajar dan melanggar prinsip Islam. Namun tidak mengapa kita sekolah di sekolah umum jika tetap bisa menjaga adb-adab bergaul dengan lawan jenis. Jika ada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan maka yang ketiga sebagai pendampingnya adalah setan.
Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا
Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin." (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih)
Daripada setan yang menemani kita lebih baik malaikat bukan? Ngaji,membaca Al Quran dan memahami artinya serta menuntut ilmu agama InsyaAllah malaikatlah yang akan mendampingi kita.Tentu sebagai wanita yang cerdas, kita akan lebih memilih untuk didampingi oleh malaikat.
Kedua: Menundukkan pandangan
Pandangan laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya adalah termasuk panah-panah setan. Kalau cuma sekilas saja atau spontanitas atau tidak sengaja maka tidak menjadi masalah pandangan mata tersebut, pandangan pertama yang tidak sengaja diperbolehkan namun selanjutnya adalah haram.Ketika melihat lawan jenis,maka cepatlah kita tundukkan pandangan itu, sebelum iblis memasuki atau mempengaruhi pikiran dan hati kita. Segera  mohon pertolongan kepada Allah agar kita tidak mengulangi pandangan itu.
Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.
"Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku." (HR. Muslim)
Ketiga: Jaga aurat terhadap lawan jenis
Jagalah aurat kita dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Maksudnya mahram di sini adalah laki-laki yang haram untuk menikahi kita. Yang tidak termasuk mahram seperti teman sekolah, teman bermain, teman pena bahkan teman dekat pun kalau dia bukan mahram kita, maka kita wajib menutup aurat kita dengan sempurna. Maksud sempurna di sini yaitu kita menggunakan jilbab yang menjulur ke seluruh  tubuh kita dan menutupi dada. Kain yang dimaksud pun adalah kain yang disyariatkan, misal kainnya tidak boleh tipis, tidak boleh sempit, dan tidak membentuk lekuk tubuh kita. Adapun yang bukan termasuk aurat dari seorang wanita adalah kedua telapak tangan dan muka atau wajah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
"Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki." (HR. Tirmidzi, shahih)
Keempat: Tidak boleh ikhtilat (campur baur antara wanita dan pria)
Ikhtilat itu adalah campur baurnya seorang wanita dengan laki-laki di satu tempat tanpa ada hijab. Di mana ketika tidak ada hijab atau kain pembatas masing-masing wanita atau lelaki tersebut bisa melihat lawan jenis dengan sangat mudah dan sesuka hatinya. Tentu kita sebagai wanita muslimah tidak mau dijadikan obyek pandangan oleh banyak laki-laki bukan? Oleh karena itu kita harus menundukkan pandangan,demikian pun yang laki-laki mempunyai kewajiban yang sama untuk menundukkan pandangannya terhadap wanita yang bukan mahramnya, karena ini adalah perintah Allah dalam Al Qur’an dan akan menjadi berdosa bila kita tidak mentaatinya.
Kelima: Menjaga kemaluan
Menjaga kemaluan juga bukan hal yang mudah,karena dewasa ini banyak sekali remaja yamng terjebak ke dalam pergaulan dan seks bebas. Sebagai muslim kita wajib tahu bagaimana caranya menjaga kemaluan. Caranya antara lain dengan tidak melihat gambar-gambar yang senonoh atau membangkitkan nafsu syahwat, tidak terlalu sering membaca atau menonton kisah-kisah percintaan, tidak terlalu sering berbicara atau berkomunikasi dengan lawan jenis, baik bicara langsung (tatap muka) ataupun melalui telepon, SMS, chatting, YM dan media komunikasi lainnya.
Sudah selayaknya sebagai seorang muslim-muslimah baik remaja atau dewasa, kita mempunyai niat yang sungguh-sungguh untuk mematuhi adab-adab bergaul dengan lawan jenis tersebut. Semoga Allah memudahkan usaha kita. Amin.

Selasa, 22 Oktober 2013

REMAJA MUSLIM SEJATI


Apa itu sejati? Kamu tahu kan? Hah? “Sejati sama dengan sekali jajal langsung mati?” Aduuuh… nggak banget deh! Sumpah! Kalo sekali jajal langsung mati, gimana ceritanya dong? Di film-film aja kalo jagoan meskipun berkali-kali jungkir-balik plus jatuh-bangun juga tetap bertahan dan akhirnya jadi pemenang. Emang sih ada film yang sad ending alias sedih di akhirnya. Tetapi umumnya untuk memanjakan penonton biasanya banyak film klimaksnya adalah jagoannya mesti menang, apapun caranya. Sekali lagi, yang penting menang. Titik.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, ngomongin remaja muslim sejati, sebenarnya kita nggak mudah menentukan kriteria dan kemudian memilihnya. Kenapa? Sebab, kriteria kadang disusupi oleh keinginan si pembuat istilah. Kadang juga, malah pemilihannya sesuai selera yang memilih. Nah, supaya adil, kita serahkan aja kepada ajaran Islam (karena memang judulnya ada sebutan “remaja muslim”). Setuju nggak? Setuju aja ya daripada elo bonyok kagak karuan. Oppss…! (apa hubungannya?)
Oya, sebelumnya kita buka kamus ya untuk mencari tahu apa sih sejati itu. Yup, saya punya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), baik versi cetak maupun digital. Menurut KBBI, sejati itu artinya yang sebenarnya alias tulen, asli, murni, tidak ada campurannya. Maka, kalo dirangkai seperti dalam judul gaulislam edisi 313 ini, artinya adalah: remaja muslim yang asli, tulen nggak ada campuran apapun yang membuatnya nggak murni lagi. Paham ya?
Apa? Belum paham? Adduuuh. Kamu tahu bensin murni dan bensin campuran kan? Yup, kalo bensin murni berarti benar-benar bensin. Tetapi kalo bensin campur berarti oplosan. Bisa saja ditambah cairan lain, sehingga ‘jati diri’ si bensin itu nggak murni lagi. Semoga contoh ini bikin kamu paham ya, Bro en Sis!

Asli, palsu, murni dan oplosan
Kamu kecewa nggak kalo ternyata benda yang kamu beli itu palsu? Mereknya sih merek terkenal, tetapi pas udah diteliti nyatanya palsu. Wuih, rasanya hati kayak kena tinju telak bertubi-tubi. Malu, kesal, dan kecewa jadi satu diulek di hatimu. Hadeeeuhh.. apalagi bila barang itu dibeli dengan harga mahal. Bisa-bisa malu, kesal dan kecewamu nggak ilang sampe delapan turunan.
Nah, sekarang ngomongin jati diri kita sebagai muslim. Secara saklebetan alias sekilas orang mungkin akan menilai kita baik hanya dengan ngeliat kita tuh rajin shalatnya, jujur, sopan, santun, bahkan menghormati yang tua, rajin shadaqah pula dan pinter baca al-Quran lengkap dengan tahsin dan ‘lagunya’. Orang-orang berpikir, itulah remaja muslim idaman. Keren! Fantastis!
Tetapi sayangnya, ketika banyak orang pada suatu saat melihat kamu pacaran, bahkan hot banget dengan pacarmu. Aduh, rasa-rasanya sangat wajar kalo banyak orang kemudian menilai kamu tuh kepribadiannya oplosan, yakni level tertentu dari palsu. Kamu tuh cuma bagus casing-nya doang. Dalemannya (yakni pikiran dan perasaan—yang memang mempengaruhi perilaku) ternyata ada yang bad sector gara-gara kena virus pemikiran dari luar Islam. Cara pandangmu tentang kehidupan dan pelaksanaan syariat dalam kehidupan udah rusak digerus virus permisif (serba boleh), hedonisme (pemuja kenikmatan jasadi dan materi) serta mengamalkan liberalisme. Ibarat software, cara kerjanya udah nggak bener. Memang sih ada sebagian yang bener, tetapi sebagian lainnya salah. Waduh, bahaya!
Nah, itu kan yang oplosan, gimana dengan yang palsu? Begini contoh gampangnya. Kamu nih, ke semua orang ngaku-ngaku sebagai siswa sekolah A, dan untuk meyakinkan kamu pake tanda pengenal sekolah tersebut. Padahal, kamu tuh bukan siswa sekolah A, tetapi siswa sekolah B. Tentu saja kamu ngelakuin itu karena ada motif alias ada udang di balik bakwan. Misalnya supaya dianggap keren sama teman sekolah lain, karena kebetulan sekolah A itu memang sekolah unggulan hingga menjadi sekolah favorit banyak pelajar di kotamu. Modus kamu yang seperti itu bisa dikategorikan mengelabui. Status pelajarmu di sekolah A dinilai palsu alias gadungan.
Bagaimana dengan kepribadian remaja muslim? Nah, ngakunya sih remaja muslim, tetapi kok nggak shalat? Ngakunya aktivis dakwah, tetapi kok pacaran? Bilang ke semua orang bahwa Islam itu jalan hidup, eh ternyata kamu malah ngamalin keyakinan lain selain Islam. Banyak orang yang udah kamu yakinkan bahwa kamu cuma beriman kepada Allah Ta’ala dan percaya bahwa takdir dariNya adalah keputusan terbaik buatmu. Eh, suatu saat kamu ketahuan lagi tergila-gila meyakini ramalan zodiak, bahkan kamu mempercayai dukun untuk dapetin ilmu pelet demi cewek yang kamu sukai. Waduh! Itu semua ciri muslim gadungan. Waspadalah!
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Tentu saja kita ingin menjadi muslim sejati (tulen, murni). Nggak mau jadi muslim oplosan, apalagi jadi muslim gadungan (palsu). Jangan sampe deh. Itu sebabnya, kita harus menunjukkan identitas asli kita sebagai muslim sejati. Muslim yang akidahnya kokoh dan hanya beriman kepada Allah Ta’ala. Menaati perintahNya dan juga perintah Rasulullah Muhammad saw. Nggak pake nawar-nawar lagi. Sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat). Nggak akan berani bilang:sami’na wa pikir-pikirna (kami dengar dan kami pikir-pikir dulu deh). Yeee.. itu sih bukan ciri muslim sejati. Bisa jadi itu muslim oplosan dan bukan tak mungkin malah muslim gadungan alias palsu.

Tunjukkan identitasmu!
Sobat gaulislam, identitas itu perlu. Kamu punya kartu pelajar nggak? Pastinya punya dong, kecuali kalo kamu nggak terdaftar di sekolahmu. Iya kan? Nah, coba perhatikan deh. Orang akan percaya dengan identitas yang kita miliki. Saat kita daftar sekolah, mestinya dimintai Akta Kelahiran sebagai salah satu identitas yang menunjukkan diri kita sesungguhnya (walau pun hanya sekadar nama dan kita anak siapa). Kartu Keluarga juga diperlukan untuk verifikasi bahwa kamu memiliki orang tua/wali dan tercatat sebagai anggota keluarga tersebut sebagai bukti penunjang keaslian identitas dirimu.
Tuh, untuk urusan duniawi saja kudu tertib. Urusan yang teknis macam begitu, identitas diri itu diperlukan. Apalagi kalo urusannya dengan akhirat (perkara surga dan neraka)? Hmm.. tentunya (seharusnya) lebih ketat lagi. Coba deh. Urusannya bisa gawat kalo identitas kemuslimanmu nggak jelas. Dibilang muslim ya karena orang tuamu bilang bahwa kamu muslim dan memang tercatat di Kartu Keluarga pada kolom yang ke-7, yakni kolom agama, tertulis Islam. Tetapi kok kelakuannya jauh dari kriteria sebagai muslim? Shalat nggak, tetapi judi jalan terus. Menutup aurat nggak ketika keluar rumah, dan pacaran paling hot. Ckckck… ini masalah banget, sobat!
Selain yang model begitu, ada juga yang shalatnya rajin tapi maksiat juga lancar. Ini parah juga. Bukankah kamu udah sering baca doa iftitah? (yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata untuk Allah, Tuhan alam semesta, tiada sesuatu pun yang menyekutui-Nya”). Doa itu selalu kita ucapkan 5 kali dalam sehari. Namun sayangnya, kalo kita udah berikrar seperti itu, tetapi kelakuan kita di luar shalat justru jauh dari ajaran Islam, artinya kan menghina ajaran Islam. Betul nggak? Luntur sudah identitas kemusliman kita. Lama kelamaan, bukan tak mungkin bisa lenyap kalo kita malah ninggalin ajaran Islam. Naudzubillah!
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Ngomongin soal identitas ada hubungannya juga lho dengan idealisme. Apa itu idealisme? Menurut kamus sih, artinya hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Itu artinya pula, bahwa kita harus menunjukkan idealisme sebagai seorang muslim.
Benar, bukan hanya menunjukkan, tetapi kita juga kudu mempertahankan idealisme yang kita miliki. Nggak boleh luntur dan pudar. Ibarat batu karang di laut. Sekeras apapun terjangan gelombang, batu karang tetap tegar menantang. Tak gentar menghadapi berbagai godaan. Emang sih, ketika kita mencoba inisiatif bikin pengajian atau bersikap kritis terhadap kondisi lingkungan kita, selalu aja jadi sasaran empuk cemoohan. Baru aktif di masjid aja udah banyak mulut-mulut usil. Baru sehari pakai kerudung (apalagi jika lengkap dengan jilbabnya) ke sekolah, udah banyak yang kepo dan cenderung ngerecokin. Dibilangin “sok alim lah”, disebut “bau surga lah”. Prinsipnya, banyak halangan menuju idealis. Tetapi, jangan pesimis!.
Namun demikian, nggak usah bingung bin stres. Kondisi ini nggak akan berlangsung lama. Mereka bakal pegel sendiri. Kuat-kuatan aja. Apalagi kita ada di jalan yang bener. Kita kudu bangga punya idealisme Islam. Bener, kudu bangga banget, kawan. Sebab kita berjuang untuk Islam. Inilah idealisme yang emang sulit dikalahkan. Firman Allah Swt.:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(QS Fushilat [41]: 30)
Well, meski demikian idealisme nggak muncul secara otomatis dalam diri kita. Namun butuh proses. Butuh upaya untuk membentuknya. Itu sebabnya, diperlukan kekritisan dalam bersikap, mampu menangkap realitas kehidupan yang ada, menyikapinya dan memberikan solusi. Ghirah (semangat) Islam kita pun perlu ditumbuhkan. Selain itu, akrab dengan pemikiran-pemikiran Islam melalui berbagai kajian, dan mampu menerjemahkannya untuk menyelesaikan berbagai problem kehidupan. So, mempertahankan idealisme dan menunjukkan identitas kemusliman itu bukan impian, tapi sebuah kenyataan yang bisa diwujudkan. Ayo, jadilah remaja muslim sejati! Buktikan dengan kemurnian identitas kemuslimanmu, Bro en Sis! 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Belajar gk susah kok

Problem anak sekolah nggak jauh dari urusan belajar. Umumnya anak sekolah pada merinding kalau mendengar kosakata belajar. Lho? Bukannya belajar adalah tugasnya? Nggak juga anak sekarang mah. Bayangan yang ada di benak adalah buku-buku pelajaran tebal, rumus yang sulit, duduk manis di depan meja dan berbagai pikiran negatif lainnya. Belum lagi ancaman dan suara ortu yang menggelegar menyuruh kamu untuk belajar. Wuih, ini adegan belajar apa uji nyali sih? Pantes aja banyak yang pada bête kalau disuruh belajar. Masuk kamar bukannya buka buku malah buka fesbuk. Bukannya nulis PR malah nulis sms dan memperbarui status di FB. Bukannya menghafal rumus tapi malah ngapal lagu yang tertanam di memori ponsel. Walah, kapan pinternya?
Bro en Sis, kalau bukan dari kesadaran diri kamu sendiri memang belajar tuh berat terasa. Bukannya jadi pinter tapi malah menjadi beban tersendiri. Kalau tak segera dicari solusinya, bukan tak mungkin kamu malah jadi stres dan anti sama aktivitas belajar. Nah, biar kondisi ini tak berlarut-larut mending kamu baca tulisan ini sampai tuntas biar ada perubahan dalam diri kamu, at least dalam menyikapi belajar agar tak menjadi sesuatu yang menakutkan buatmu. Sip!

Benahi niat dulu
‘Belajar yang rajin biar pinter trus jadi dokter.’; ‘Belajar yang bener biar nilaimu bagus, gampang dapat kerjaan dan dapat gaji jutaan.’; ‘Belajar yang giat biar dapat ranking satu di kelas.’
Nah, ada nggak di antara kamu yang nggak didogma dengan kalimat-kalimat di atas? Pasti hampir semua pernah atau bahkan sering. Jadilah, niat belajar si anak diarahkan hanya sebatas pencapaian tujuan-tujuan duniawi semata. Tak heran bila tujuan duniawi itu tak tercapai, maka ortu akan marah dan kecewa karena menganggap cara belajar si anak tak mencapai hasil sesuai yang diharapkan.
Bagi si anak, dia akan menterjemahkan kalimat dogma di atas dengan caranya sendiri. Akhirnya, menghalalkan segala cara menjadi kebiasaan. Mencontek saat ujian, misalnya. Ketika ditanya dengan entengnya dia menjawab bahwa mencontek itu adalah sarana membahagiakan ortu yang selalu menginginkan anaknya dapat nilai bagus tanpa peduli caranya halal atau haram. Niatnya bener tapi caranya salah. Maka tujuan yang bener tidak bisa dicapai dengan cara yang salah, misalnya mencontek.
Inilah yang nantinya menjadi cikal-bakal para koruptor di negeri ini. Oleh karena itu, ayo luruskan niatmu belajar mulai sekarang. Allah Swt. berfirman tentang keutamaan orang yang beriman dan berilmu: niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS al-Mujaadilah [58]: 11)
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, cukup ayat ini saja sebagai motivasi kita dalam belajar dan menuntut ilmu. Bila pun ada manfaat duniawi semisal nilai bagus, dapat pekerjaan enak dan gaji banyak maka itu adalah efek samping dan bukan menjadi tujuan utama dan terakhir.
Niatkan belajar untuk menjadi pintar karena Allah semata. Niat ini nanti berimbas pada tujuan kamu berikutnya. Belajar juga tidak melulu menghadap buku yang tebalnya sampai bisa bikin bantal. Belajar adalah saat kita mendapatkan sesuatu yang baru dari sebuah proses sehingga menjadikan kita sosok manusia yang lebih baik dan bijak.
Boys and gals, jangan jadi remaja kuper (kurang pergaulan) yang bisanya cuma mengutip dari buku tanpa peduli realitas kehidupan sebenarnya. Belajar dari kehidupan dan tentang kehidupan ini jauh lebih asik dan bikin cerdas daripada berkutat dengan buku saja. Tapi itu bukan berarti belajar dari buku jadi nggak penting loh. Intinya, jadikan momen belajar menjadi hal yang menyenangkan baik itu dari buku ataupun dari nonbuku. Siap ya?

Tujuan belajar seorang muslim
Kehidupan seorang muslim tak jauh dari mengharap ridho Allah Swt. Begitu juga dengan tujuan belajar,  tak jauh dari tujuan besar ini. Bila ridho Allah yang menjadi tujuan, maka tak ada ceritanya seorang muslim akan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya.
Akhir-akhir ini banyak pihak yang menjanjikan gelar sarjana mulai S1, S2 bahkan S3 dengan cara yang tak terpuji. Dengan hanya membayar sekian juta rupiah tanpa perlu ujian dan masuk kuliah, seseorang bisa mendapatkan ijazah. Inilah efek dari kalimat-kalimat dogma di atas yang melupakan bahwa belajar ini juga dalam rangka meraih ridho Allah, bukan hanya materi semata. Belajar akhirnya menjadi sesuatu yang dibisniskan, tidak lagi mempunyai nilai ruhiyah yang ada hubungannya dengan kehidupan sesudah mati. Padahal setiap amalan kita di dunia selalu ada pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Ijazah bukan segalanya. Banyak orang mempunyai ijazah sekolah sampai deretan gelar yang dipunyai, tapi kontribusinya terhadap masyarakat kosong. Bisa-bisa orang seperti ini adalah ulat yang menggerogoti daun alias penyakit di dalam masyarakat. Contohnya saja koruptor dan para pejabat di negeri ini yang rela memalsukan ijazah agar bisa menduduki jabatan tertentu. Apa sih yang nggak bisa dibeli di negeri ini? Jadi kalo sekadar urusan ijazah, siapa aja bisa. Tapi ilmu yang didapat dari sebuah proses belajar, itu yang mahal harganya dan tak bisa dibeli dengan uang. Inilah yang seharusnya kita perjuangkan untuk didapatkan dengan cara yang halal.
Belajar seorang muslim juga tidak melulu ilmu-ilmu dunia saja. Begitu sebaliknya, seorang muslim juga tidak hanya belajar tentang ilmu akhirat an sich. Keduanya harus seimbang agar kehidupan akhirat bisa diraih tanpa meninggalkan kehidupan dunia. Seorang muslim yang pintar ilmu fisika dan matematika, juga wajib bagi dirinya untuk belajar ilmu Islam. Bahkan, belajar dien ini hukumnya adalah fardhu ain bagi tiap-tiap muslim. Belajar ilmu dunia juga penting tapi hukumnya sebatas fardhu kifayah yang apabila ada muslim lain yang sudah mempelajarinya, maka gugurlah kewajiban itu. Jadi, disini kita bisa menempatkan skala prioritas belajar kita pada tempat yang seharusnya. Jangan malah kebalik-balik ya.

Untuk orang tua
Anak adalah cermin diri orang tua. Kita tak ingin cermin dibelah karena buruk rupa orang yang bercermin. Maksudnya adalah menjadi apa dan siapa anak-anak kita kelak, itu tergantung apa yang ditanamkan dan diajarkan orang tua pada anak-anaknya. Biarlah mungkin kita dulu didogma tujuan belajar adalah agar mudah mencari kerja dan dapat gaji yang banyak. Tapi janganlah itu kita teruskan pada anak-anak yang akan menjadi penerus generasi ini. Kita putus lingkaran ini dan kita buat lingkaran baru dengan memahamkan pada anak bahwa tujuan belajar adalah semata-mata demi meraih ridho Allah. Betapa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan.
Kita tanamkan pada anak-anak kita agar mereka menjadi generasi sebagaimana para salafus salih terdahulu. Mereka cerdas dalam ilmu dunia semisal matematika, fisika, kimia, bahasa asing dan lain sebagainya. Tapi pada saat yang sama mereka juga ahli dalam ilmu fiqh, tafsir, hadits dan hafidz al-Quran. Dunia dan akhirat seimbang. Jangan sampai anak-anak kita pintar fisika dan matematika tapi sholatnya malas. Boro-boro hafidz al-Quran, baca al-Quran-nya saja tak bisa. Naudzhubillah. Jangan pula anak-anak kita menjadi anak-anak yang seolah-olah rajin sholat tapi ternyata akhlaknya bejat.
Kita tanamkan pada diri anak-anak bahwa bekerja itu tidak harus berada di kantor. Tidak pula harus menjadi PNS sehingga menghalalkan segala cara dengan menyuap agar bisa diterima. Belajar adalah benar-benar mempelajari apa yang dibutuhkan oleh kehidupan. Ajari anak kita untuk survive dalam kondisi apa pun. Krisis moneter, pemecatan massal, ambruknya ekonomi dunia karena sistem kapitalis, itu semua tak akan merisaukan dirinya. Bekal keimanan yang kuat cukup sudah sebagai modal untuk bisa berdiri tangguh menantang zaman.

Finally…
Belajar itu ternyata tak semenakutkan seperti yang kamu bayangkan. Mulai sekarang luruskan niat kamu, tujuan kamu dan pehamaman kamu tentang makna belajar. Nggak ada yang melarang kamu untuk fesbuk-an, sms-an, nyetel musik, atau hal-hal mubah lainnya sakadar untuk refreshing. Tapi kamu kudu tahu diri dong dan bertanggung jawab terhadap diri kamu sendiri. Kamu kudu tahu kapan harus belajar, kapan harus fesbuk-an dan kapan harus istirahat.
Yakin deh, itu semua demi kebaikan kamu kok. Nggak usah menunggu diperintah ortu bila waktu belajar tiba. Bahkan belajar itu juga nggak harus menunggu waktu-waktu tertentu. Kamu aja sms-an juga nggak menunggu jam-jam tertentu kan? Bila untuk sms-an aja bisa, maka untuk belajar so pasti lebih bisa. Sms-an yang nggak akan keluar ulangan aja kamu bela-belain apalagi belajar yang pastinya bikin kamu lebih pintar dan bijak, maka harus lebih dibela-belain.
Skala prioritas belajar kamu juga sudah tahu dong. Belajar ilmu dien (agama) itu fardhu ain. Belajar ilmu selainnya atau ilmu-ilmu dunia itu juga penting tapi fardhu kifayah. Jangan sampai bingung ya. Mulai sekarang, sejak habis baca artikel ini, harus ada perubahan yang berarti dalam pola belajar kamu. Punyai tanggung jawab bahwa belajar ini adalah untuk dirimu sendiri (dan kalo udah bisa sebarkan lagi ke yang lain) demi meraih ridho Allah. Insya Allah, dunia akhirat kamu bakal cerah bila ini semua kamu lakoni dengan kesadaran penuh sebagai seorang muslim. Kerjaan dan gaji? Nggak usah khawatir, rezeki kamu nggak bakal diambil orang kok. Belajar aja yang rajin, ilmu dien dan selainnya. Selebihnya, yakini bahwa Allah Mahamengatur rizki. Siap ya?

Penerus Agama dan Bangsa

Sobat muda muslim, umur kamu sekarang berapa? Sudah baligh belum? Hehehe… pertanyaannya aneh ya? Apakah kamu tahu arti baligh? Waduh, kalo belum tahu atau lupa, perlu belajar lagi deh ya. Hmm.. intinya, baligh itu adalah kondisi di mana kamu udah masuk ke fase dewasa, dan meninggalkan fase anak-anak. Tandanya ya kalo cowok udah ihtilam (mimpi ‘indah’ sambil keluar sperma) dan kalo cewek udah haidh. Itu tanda baligh. Konsekuensinya adalah kamu jadi terbebani hukum alias mukallaf (beda lho ama mualaf, awas jangan sampe ketuker). Maksudnya apa sih? Gini, kalo kamu udah baligh, berarti kalo berbuat maksiat bakalan dicatet, begitu pula kalo berbuat baik akan jadi pahala. Waktu masih anak-anak mah nggak dicatet amal-amalmu. Paham ya?
Belum? Waduh, gini kamsudnya, eh, maksudnya: kalo kamu ketika udah baligh berbohong ya dicatat sebagai dosa, kamu membuka aurat saat keluar rumah, dicatet dosa, kamu berzina apalagi, itu termasuk dosa besar, ya dicatet juga. Ngeri! Sebaliknya, kalo berbuat amal shalih dan ikhlas dilakukan insya Allah dicatet sebagai perbuatan yang bakal nambah pahalamu. Insya Allah.
Nah, ketika baligh apa yang kamu lakukan? Kalau aku waktu baligh, mulai berhati-hati saat keluar rumah, berpakaian sesuai syariat Islam, dan sudah tidak lagi berteman dengan lawan jenis. Maklum, waktu itu temanku kebanyakan laki-laki, biasanya main layang-layang ke sawah, main kelereng di lapangan, main petasan dll. *jadi nostalgila, eh nostalgia deh…
Akan kuceritakan sebab aku seperti itu, tapi singkat aja ya. Aku tidak tahu siapa yang salah, aku sendiri atau orang tuaku atau keluargaku. Ayahku nggak tahu ke mana, ibuku banting tulang mencari nafkah buat aku dan adikku. Ibuku pulangnya sore, jadi nggak tahu aku kesehariannya gimana.
Suatu hari, aku harus menerima kenyataan orang tuaku meninggal dunia, sebelum aku baligh. Jadilah aku yang tidak ada mengarahkan, tidak ada yang mengajarkan agama. Masih jelas terlihat sebagai status orang awam. Aku tinggal dengan nenekku. Ada saudara, tapi mereka mendiamkan aku seperti itu. Entah mereka tidak tahu dalam Islam itu bagaimana, atau mereka nggak peduli. Semoga saja tidak. Aku yakinnya sih, mereka tidak tahu cara mendidik anak.
Ketika masuk SMP, aku tertarik ikut ekstrakurikuler rohis. Alasannya cuma satu, aku kagum sama guru agamaku yang nasihatnya mampu masuk ke dalam hatiku. Lebay ya… hehehe.. dan kebetulan guru agamaku itu pembina rohis. Nah dari situ aku tahu sebagian tentang pergaulan lawan jenis, cara berpakaian, dan pokoknya mencakup semuanya ketika sudah baligh.

Peduli sekitar yuk!
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, sebagai seorang remaja kita mempunyai andil yang sangat besar bagi perubahan lingkungan. Biasanya yang mampu mengubah dan membawa temannya ke arah yang baik atau bahkan ke arah yang buruk.
Saat teman ada yang bermaksiat, seperti menjaili temannya, mencuri, waktunya sholat jumat malah main game online, atau yang ceweknya malah bergelayutan di tangan lelaki dll, siapa lagi yang menyadarkan mereka selain kita yang udah tahu? Iya kan?
Bener. Yakin deh kalau orang tuanya yang menasihati pasti nggak akan mau dengar, soalnya berbeda karakter. Biasanya kan orang tua cara menyampaikan “petuahnya” nggak bisa berbicara seperti ke teman. Biasanya juga susah memahami kita. Pengennya menang aja. Maaf nih buat para orang tua bukan bermaksud menyalahkan (hehehe…). Tapi kalau kita yang menasihatinya kemungkinan besar mau dengar, soalnya kita satu karakter dan bisa memahami. Iya nggak sih? Silakan dicoba aja dah! Bener lho, langsung praktek!
Oya, tentunya untuk bisa mengarahkan teman kita yang seperti itu, kita harus punya ilmu. Agar bisa menasihatinya sesuai dengan tuntunan al-Quran dan Hadits.
Sobat muda muslim, saat aku browsing mencari bahan tulisan ini aku menemukan tips untuk remaja seperti kita untuk berdakwah di lingkungannya. Tips ini menurutku bagus lho. Sayangnya aku lupa tidak meng-copy sumbernya. Tapi ada yang aku ubah sedikit. Semoga aja yang nulis nggak marah. *ngarep dot kom hehehe…
Sip, aku beberkan tipsnya dengan beberapa poin yang udah dimodifikasi biar tambah asik dari aslinya ya:
Pertama, niat. Yes! Awali dengan niat karena Allah semata. Jangan sampai ada niat untuk sombong dan merasa benar sendiri. Jangan sampai ada kesan menggurui dan menganggap bodoh teman yang sedang kita dakwahi. Petunjuk itu dari Allah. Lakukan upaya maksimal dalam menyadarkan teman dan jangan lupa berdoa untuknya agar segera kembali ke jalan yang benar. Sungguh, tidak ada yang mampu memberi jalan bila sudah disesatkan oleh Allah Swt dan tak ada yang mampu menyesatkan bila sudah diberi petunjukNya. Jadi jangan lupa berdoa ya.
Kedua, lakukan apa yang kamu katakan. Ngomong gampang, tapi melakukannya itu yang butuh upaya lebih. Kalo kita cuma bisa ngomong tanpa melakukan apa yang kita omongkan, maka orang lain terutama teman-teman kita tak akan percaya pada kita lagi. Misal nih, kita bilang sholat wajib, tapi ketika adzan dikumandangkan kita masih asyik aja facebook-an. Bahaya!
Ketiga, gunakan al-Quran dan hadits. Dalam berdakwah, gunakan al-Quran dan hadits sebagai acuan, bukan kata si A dan si B atau bahkan kata nenek moyang. Banyaklah baca buku-buku keislaman dan pahamilah wawasan keislaman itu sendiri. Jangan sampai kita menyampaikan sesuatu yang kita tidak punya ilmu tentangnya.Jadikan sirah (sejarah) Rasulullah saw. dalam berdakwah sebagai panduan kita ketika berdakwah di lingkungan teman-temanmu.
Keempat, berbicaralah pada orang lain seakan-akan baru mengenalnya. Maksud dari poin ini adalah jangan berusaha sok tahu tentang seseorang hanya dengan melihatnya sekilas saja. Berbicaralah dengan ramah dan penuh perhatian sehingga orang yang akan didakwahi merasa nyaman dan kemudian percaya. Jangan terkecoh dengan penampilan. Misalnya salah seorang teman kita yang tak pernah sholat Jumat. Kenalilah dirinya lebih jauh dan jangan langsung berprasangka buruk. Ada banyak laki-laki yang tidak sholat Jumat karena keluarganya tidak pernah mengajarinya dan ia pun tidak tahu hukumnya. Jadi, tugas kita nih untuk mendekati orang-orang semacam ini untuk memberikan pencerahan bagi kehidupannya sebagai seorang muslim yang baik.
Kelima, murah senyum. Jika kita ingin orang lain dekat dan menerima dakwah kita maka usahakan kita bersikap ramah pada mereka. Tersenyum adalah salah satu kunci dari keramahan ini. Yang patut diingat adalah tersenyum di sini konteksnya adalah ramah secara umum dan tidak bermaksud tebar pesona pada lawan jenis. Bagaimana pun Islam mempunyai aturan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Pastikan jangan pake atas nama dakwah untuk berdua-duaan dengan lawan jenis. Bahaya! Nah, agar tidak timbul fitnah, usahakan berdakwah fokus pada sesama jenis. Cowok yang berdakwah ke kalangan cowok. Begitu juga cewek dakwahnya juga ke lingkungan cewek saja.
Keenam, bersikap aktif dan berbaur. Langkah awal bagi keberhasilan dakwah adalah bersikap aktif dan berbaur dengan objek dakwah. Sering-sering ngobrol dengan mereka yang ingin kita dakwahi. Jadikan mereka percaya bahwa kamu adalah tempat yang asyik untuk curhat, berbagi cerita baik suka maupun duka. Mengerjakan PR bareng, menenangkan di kala mereka gundah, atau sekadar menjadi teman yang baik ketika mereka butuh curhat dan diskusi. Namun ingat, yang utama kita harus bisa menjaga rahasia karena mereka sudah percaya pada kita. Tapi bila keadaan berubah menjadi serius dan berbahaya, misalnya saja ada yang berniat bunuh diri karena frustasi menghadapi masalahnya, maka jangan segan-segan menghubungi orang yang lebih dewasa untuk menyikapi masalah ini.
Ketujuh, tekankan sholat wajib 5 kali sehari sebelum kewajiban lainnya. Hubungan dengan Allah secara pribadi itu ada pada kewajiban sholat 5 waktu. Jangan memberikan banyak materi lain lebih dulu sebelum kesadaran untuk sholat wajib 5 waktu bisa terlaksana dengan baik. Tekankah bahwa dengan sholat saja hubungan dengan Allah terjalin secara langsung tanpa perantara. Hanya Allah Ta’ala saja tempat bersandar jika manusia menghadapi masalah. Sholat adalah saat yang tepat untuk meminta pertolonganNya. Jika mungkin, usahakan untuk sholat berjamaah ketika kamu sedang ngobrol santai dengan mereka. Ketika sholat ini sudah dijalankan dengan konsisten, maka hal-hal lain akan lebih mudah untuk diingatkan misalnya saja tidak boleh memaki, patuh pada orang tua dan cara berpakain yang menutup aurat sesuai dengan syariat Islam.
Kedelapan, jangan pergi ketika mereka sedang down. Ingat, ketika seseorang sudah mulai mau menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan teratur, tidak berarti urusan sudah selesai. Akan ada ujian dan cobaan dalam hidup yang kadang bisa membuat futur/down atau lemah iman seseorang. Ada kalanya mereka mempertanyakan lagi keadilan Allah Swt akan jalan hidup sulit yang mereka tempuh. Jangan putus asa apalagi tega meninggalkan mereka. Dampingilah mereka untuk kembali menemukan jati diri keislaman mereka.
Nah itu tadi beberapa tipsnya, menarik bukan? Oke deh Bro en Sis, kamu bisa menjadi remaja yang mampu membawa teman-temannya sadar dan mengenal Islam. Sudah saatnya remaja peduli bahwa siapa lagi yang akan memperjuangkan Islam di tengah-tengah masyarakat kalau bukan kita semua? Makanya jangan malas ya untuk belajar Islam. Yuk kita sama-sama memperbaiki teman-teman kita agar kembali pada Islam secara kaaffah alias total alias nggak pilih-pilih ngelaksanain jenis syariat Islam. Tetapi laksanakan semua, baik kamu sukai atau tidak kamu sukai. Sebab, melaksanakan syariat Islam itu perintah Allah Ta’ala. Maka, rendahkan egomu dan singkirkan hawa nafsumu. Biar mantap, barengi dengan ngaji dan belajar Islam lalu dakwahkan. 

Sabtu, 01 Juni 2013

MAKNA FILOSOFI DARI LAGU GUNDUL-GUNDUL PACUL

Ternyata lagu gundul-gundul pacul mempunyai filosofi yang cukup mendalam, Lagu Gundul Gundul Pacul ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.

'Gundul' adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. jadi 'gundul' adalah kehormatan tanpa mahkota.

'Pacul' adalah cangkul (red, jawa) yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. jadi pacul adalah lambang kawula rendah, kebanyakan petani.

'Gundul pacul' artinya adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul utk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya/orang banyak.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah 'Papat Kang Ucul' (4 yg lepas). Kemuliaan seseorang tergantung 4 hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya, dengan makna sbb:
1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat.
2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya. 'Gembelengan' artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

Arti harafiahnya jika orang yg kepalanya sudah kehilangan 4 indera itu mengakibatkan hal-hal sbb:
1. GEMBELENGAN (congkak/sombong).
2. NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL (menjunjung amanah rakyat/orang banyak).
3. GEMBELENGAN ( sombong hati).
4. WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan).
5. SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia sia, tidak bermanfaat bagi kesejahteraan orang banyak)

Cukup dalam makna dan penjabaran dari lagu ini, patut untuk kita jaga dan lestarikan ke anak cucu sebagai warisan budaya lagu jawa. Semoga mengingatkan dan menyadarkan diri kita sebagai pemimpin... Minimal pemimpin Keluarga....
RENUNGAN ISLAMI © 2008 Template by:
SkinCorner